
Dalam dunia Machine Learning, khususnya supervised learning (pembelajaran terdiawasi), kita sering dihadapkan pada dua jenis tugas utama: klasifikasi dan regresi. Meskipun keduanya menggunakan data historis yang berlabel untuk melatih model, tujuan akhir dari keduanya sangat berbeda.
Bagi Anda yang sedang mempelajari AI untuk pemanfaatan di dunia saham, memahami perbedaan fundamental ini sangat krusial. Klasifikasi berfokus pada memprediksi label atau kategori diskret (seperti keputusan “Beli” atau “Jual” saham, serta penyaringan “Spam” atau “Bukan Spam” pada email), sedangkan regresi digunakan untuk memprediksi nilai numerik kontinu (seperti memprediksi harga saham di masa depan atau estimasi berat badan berdasarkan tinggi).
Berikut adalah model-model klasifikasi penting dalam machine learning yang perlu Anda pahami untuk membangun strategi analisis yang kokoh:
1. Logistic Regression: Si Klasifikator Biner yang Andal
Meskipun memiliki kata “regresi” di dalam namanya, Logistic Regression (Regresi Logistik) sebenarnya adalah algoritma yang digunakan untuk tugas klasifikasi biner atau dua kelas.
- Cara Kerja: Model ini menggunakan fungsi Sigmoid (S-curve) untuk memetakan hasil prediksi angka kontinu menjadi nilai probabilitas yang berada di antara 0 dan 1. Rumus fungsi Sigmoid dinyatakan sebagai:
f(x)=1 +e ^−x
- Nilai Batas (Threshold): Untuk menentukan keputusan akhir, model menggunakan nilai batas (threshold) yang biasanya diatur pada angka 0.5. Jika probabilitas yang dihasilkan ≥0.5, maka data dimasukkan ke dalam Kelas 1 (misalnya “Beli” atau “Spam”); jika <0.5, data diklasifikasikan ke dalam Kelas 0 (misalnya “Jual” atau “Bukan Spam”).
2. Support Vector Machine (SVM) & Sihir “Kernel Trick”
Support Vector Machine (SVM) adalah algoritma pembelajaran terdiawasi yang sangat tangguh untuk memisahkan data ke dalam kelas-kelas yang berbeda.
- Konsep Utama: SVM bekerja dengan mencari hyperplane (bidang pembatas keputusan optimal) yang membagi fitur-fitur data ke dalam kategori diskret dengan margin maksimum (jarak terjauh). Titik-titik data terdekat dengan batas keputusan ini disebut sebagai Support Vectors, dan mereka memegang peran penting dalam menentukan posisi bidang pembatas.
- Hard Margin vs. Soft Margin: Pada data yang bersih tanpa gangguan (noise), digunakan pendekatan hard margin di mana tidak boleh ada kesalahan klasifikasi sama sekali. Namun, untuk data riil yang penuh dengan gangguan (noisy), pendekatan soft margin diterapkan agar model lebih toleran terhadap sedikit kesalahan menggunakan variabel penalti (C) demi margin yang lebih luas.
- Mengatasi Data Non-Linear dengan Kernel Trick: Di dunia nyata, hubungan antardata sering kali bersifat non-linear dan melengkung. SVM mengatasi tantangan ini menggunakan Kernel Trick, yaitu metode matematika yang secara implisit memetakan data berdimensi rendah ke dimensi yang lebih tinggi di mana data tersebut dapat dipisahkan secara linear oleh sebuah hyperplane. Pemetaan ini sangat efisien karena tidak memerlukan perhitungan koordinat titik data di ruang dimensi tinggi tersebut secara manual.
- Jenis Kernel Populer: Beberapa tipe fungsi kernel yang sering digunakan meliputi Linear Kernel (untuk data yang sudah terpisah linear), Polynomial Kernel, Radial Basis Function (RBF) Kernel (sangat baik untuk menangani data yang kompleks), dan Sigmoid Kernel.
3. K-Nearest Neighbors (KNN): Klasifikasi Berbasis Kedekatan Tetangga
K-Nearest Neighbors (KNN) adalah salah satu algoritma paling sederhana, intuitif, sekaligus akurat dalam ranah kecerdasan buatan. Algoritma ini memegang prinsip proksimitas: “titik data yang mirip cenderung berada saling berdekatan”.
- Cara Kerja: Ketika ada data baru yang masuk, KNN tidak akan melakukan proses kalkulasi rumit di awal untuk membangun model. Ia hanya akan mengukur jarak geometris antara data baru tersebut dengan data latih yang sudah disimpannya dalam memori. Pengukuran jarak ini umumnya menggunakan Euclidean Distance (jarak garis lurus), meskipun bisa juga menggunakan metode lain seperti Manhattan Distance, Minkowski Distance, atau Hamming Distance untuk tipe data boolean atau teks.
- Voting Mayoritas (Plurality Voting): Setelah menghitung jarak ke tetangga-tetangganya, kelas data ditentukan berdasarkan suara terbanyak dari sejumlah K tetangga terdekat. Menggunakan angka ganjil untuk nilai K (misalnya K=3 atau K=5) sangat direkomendasikan guna menghindari hasil voting yang seimbang (seri).
- Lazy Learning: KNN dijuluki sebagai lazy learner (pembelajar malas) karena ia tidak membangun model matematika eksplisit selama fase pelatihan. Semua komputasi dan analisis jarak ditunda hingga ada permintaan prediksi (inference). Hal ini membuatnya sangat adaptif terhadap data baru, namun membutuhkan memori penyimpanan (memory-intensive) yang besar seiring bertambahnya data.
Penerapan dan Tantangan di Dunia Nyata
Dalam analisis finansial dan peramalan pasar saham, model klasifikasi ini dimanfaatkan secara luas untuk menilai kelayakan kredit nasabah, memproyeksikan arah pergerakan pasar (tren naik/turun), hingga membangun mesin rekomendasi transaksi investasi.
Namun, model-model ini juga memiliki batasannya masing-masing. KNN misalnya, sangat rentan terhadap Curse of Dimensionality (kutukan dimensi tinggi), di mana akurasi prediksi menurun drastis saat jumlah fitur atau dimensi yang dianalisis terlalu banyak karena jarak antartitik menjadi seragam dan sulit dibedakan. Di sinilah pemilihan model yang tepat, penalaan parameter, serta pembersihan data awal memegang kunci keberhasilan strategi AI Anda.
Dengan memahami perbedaan mendasar antara klasifikasi dan regresi serta karakteristik unik dari masing-masing algoritma, Anda kini siap melangkah lebih jauh untuk mengintegrasikan teknologi AI ke dalam analisis portofolio saham Anda secara presisi.